My Journal
Blog

Timeline

Blog

Nisfu Sya'ban diantara Rajab dan Ramadhan

SEMUA waktu yang ada di muka bumi ini merupakan waktu-waktu yang penuh keberkahan, jika seseorang memanfaatkan dengan sebaik mungkin. Yakni melakukan amal kebaikan dan menyibukkan diri dengan perkara yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Namun, ada salah satu waktu yang jika Anda memanfaatkannya dengan baik, maka keberkahan itu akan terasa berlipat-lipat ganda. Apakah itu?

Salah satu bulan yang membawa keberkahan ialah sya’ban, dan kali ini tepat pada pertengahan bulan sya’ban atau yang biasa kita kenal sebagai malam nisfu sya’ban. Malam ini dipercaya dapat memberikan keberkahan yang amat luar biasa kepada orang-orang yang senantiasa menyucikan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sebagaimana dalam hadis dikatakan, “Sesungguhnya Allah SWT turun ke langit dunia pada malam nisfu sya’ban dan mengampuni lebih banyak dari jumlah bulu pada kambing Bani Kalb (salah satu kabilah yang punya banyak kambing),” (HR. At-Tabarani dan Ahmad). Namun Al-Imam At-Tirmizy menyatakan bahwa riwayat ini didhaifkan oleh Al-Bukhari.

Selain hadits di atas, juga ada hadits lainnya yang meski tidak sampai derajat shahih, namun oleh para ulama diterima juga.

Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata bahwa Rasulullah SAW bangun pada malam dan melakukan shalat serta memperlama sujud, sehingga aku menyangka beliau telah diambil. Ketika beliau mengangkat kepalanya dari sujud dan selesai dari shalatnya, beliau berkata, “Wahai Asiyah, (atau Wahai Humaira’), apakah kamu menyangka bahwa Rasulullah tidak memberikan hakmu kepadamu?” Aku menjawab, “Tidak ya Rasulallah, namun Aku menyangka bahwa Anda telah dipanggil Allah karena sujud Anda lama sekali.” Rasulullah SAW bersabda, “Tahukah kamu malam apa ini?” Aku menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Ini adalah malam nisfu sya’ban (pertengahan bulan sya’ban). Dan Allah muncul kepada hamba-hamba-Nya di malam nisfu sya’ban dan mengampuni orang yang minta ampun, mengasihi orang yang minta dikasihi, namun menunda orang yang hasud sebagaimana perilaku mereka,” (HR. Al-Baihaqi).

Al-Baihaqi meriwayatkan hadits ini lewat jalur Al-‘Alaa’ bin Al-Harits dan menyatakan bahwa hadits inimursal jayyid. Hal itu karena Al-‘Alaa’ tidak mendengar langsung dari Aisyah RA.

Ditambah lagi dengan satu hadits yang menyebutkan bahwa pada bulan Sya’ban amal-amal manusia dilaporkan ke langit. Namun hadits ini tidak secara spesifik menyebutkan bahwa hal itu terjadi pada malam nisfu sya’ban.

Dari Usamah bin Zaid ra bahwa beliau bertanya kepada nabi SAW, “Saya tidak melihat Anda berpuasa (sunnah) lebih banyak dari bulan Sya’ban.” Beliau menjawab, “Bulan sya’ban adalah bulan yang sering dilupakan orang dan terdapat di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan itu adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada rabbul-alamin. Aku senang bila amalku diangkat sedangkan aku dalam keadaan berpuasa,” (HR. An-Nasai).

Dari tiga hadits di atas, kita bisa menerima sebuah gambaran para para ahli hadits memang berbeda pendapat. Dan apakah kita bisa menerima sebuah riwayat yang dhaif, juga menjadi ajang perbedaan pendapat lagi. Sebab sebagian ulama membolehkan kita menggunakan hadits dhaif (asal tidak parah), khususnya untuk masalah fadhailul a’mal, bukan masalah aqidah asasiyah dan hukum halam dan haram.

Anggaplah kita meminjam pendapat yang menerima hadits-hadits di atas, maka kita akan mendapati bahwa memang ada kekhususan di bulan sya’ban khususnya malam nisfu sya’ban. Di antaranya adalah Allah SWT mengampuni dosa-dosa yang minta ampun. Dan bahwa Rasulullah SAW melakukan shalat di malam itu dan memperlama shalatnya. Dan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal manusia.

Jadi, kita ambil sisi positifnya saja. Dengan adanya bulan sya’ban khususnya nisfu sya’ban alangkah lebih baiknya jika kita senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, sebelum melakukan itu, bersihkanlah diri kita dengan meminta maaf kepada orang-orang terdekat kita. Barulah kita memohon ampun kepada Allah.

Walau pun kita tidak mengetahui kepastiannya, tak ada salahnya kan jika malam ini kita habiskan waktu dengan mendekatkan diri pada Allah? Tak ada yang salah dengan hal itu, hanya niat kita ialah bukan hanya untuk mengaharapkan pahala saja, karena itu berarti kita menginginkan yang lain, walau sah-sah saja jika memang kita mengharapkannya. Hanya, akan menjadi hal yang jauh lebih baik, jika kita mengaharapkan ridha dan ampunan Allah SWT. Tak lupa berdoalah demi masa depan kita untuk menjadi seorang hamba dan manusia yang lebih baik lagi di muka bumi ini. Wallahu ‘alam.

-oleh adam islam***