Ayah Kesatria Hati

Dia bukanlah wali, apalagi nabi. Dialah hamba yang biasa sebagaimana hamba-hambaNya yang lain, dia tidak di berkati karamah ataupun mukjizat sebagaimana wali dan nabinya, namun laku, ujaran hingga segala tindak tanduknya hari-hari insya Allah mewarisi jati diri para wali maupun al anbiya’.

Untuk menyambung hidup anak-anak dan istrinya ia bekerja keras siang malam, melimpahkan segenap tenaga dan pikirannya untuk mereguk secuil nafkah. Moral dan lelaku anak-anaknya adalah berkat didikannya, juga tiap deras peluhnya yang berjuang menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang tertinggi.

Ia pun mafhum, akan tanggung jawab dirinya bagi istri dan anak-anaknya amat berat. Bagaimana tidak? Bukankah seorang ayah juga turut andil dalam menebus dosa-dosa yang di perbuat anak serta istrinya? Derajat seorang ayah memang berada di bawah derajat seorang ibu. Namun, kendati demikian bukan berarti seorang ayah tidak memiliki peran besar sebagaimana peran ibu. Seorang ayah adalah tiang-tiang yang menyangga bangunan kokoh. Kalau tak ada tiang, bangunan akan roboh. Begitu pula dalam sebuah keluarga, tanpa adanya seorang ayah, seperti apakah keluarga itu? Siapa yang dengan sudi, rutin mempersembahkan nafkah pada sang istri, siapa yang dapat menyuguhi petuah-petuah hanif pada anak-anaknya? Dan siapa yang mengendalikan laju kembara keluarga agar tetap dapat meniti pada jalan yang seharusnya? Itulah ayah.

Di luar sana, begitu seringnya penulis dapati wanita-wanita baya yang bekerja sejak fajar membentang hingga senja menjelang. Mereka yang seharusnya menyandang peran menata keperluan-keperluan domestik di dalam rumahnya seperti mengurus anak, memasak, ataupun sekadar merawat rumah justru harus berkutat dengan sapu lidi dan karung lusuhnya di luar rumah untuk meraup secuil rupiah. Bagaimana mereka demikian? Ternyata setelah ditelisik lebih jauh, ternyata wanita-wanita itu bekerja karena tidak adanya peran suami di dalam keluarganya, salah satu dari mereka terpaksa bekerja karena kepergian suaminya ke taman Ilahi hingga tak ada lagi jiwa yang sudi memberinya nafkah secara rutin, padahal kebutuhannya bersama anak-anaknya sehari-hari tak dapat lagi ditoleransi. Anak-anaknya banyak, masih sekolah, kepada siapa lagi ia menengadah rezeki itu kalau tak ambil tindakan sendiri. Merekalah wanita yang menikmati hambarnya kehidupan bersama para buah hatinya yang yatim, wanita-wanita janda yang telah digembleng menjadi perkasa itulah yang mafhum bagaimana pentingnya seorang ayah bagi keluarganya, terutama anak-anaknya. Mereka, para anak-anak yatim yang lebih tahu menahu bagaimana perihnya menyaksikan ibunya berjuang sendirian, memeras peluh siang malam untuk sekadar menyambung perut lapar. Mereka menyaksikannya sendiri bagaimana kini ibunya yang rela memakai daster compang-camping karena tak ada lagi sosok suami yang dengan penuh cinta membelikannya sandang yang layak sebagaimana dulu ketika masih hidup.

Lalu bagaimana dengan mereka yang masih merasakan kehadiran sosok ayah dalam keluarganya, sudahkah persembahkan sesuatu yang membanggakan baginya? Sudahkah mereka menciptakan lengkingan senyum pada wajah teduhnya?

Pada kenyataannya tidak demikian, meski tidak semuanya, telah penulis sendiri saksikan. Masih banyak yang alpa atau tidak menyadari pentingnya kehadiran sosok ayah bagi dirinya, hingga mereka cenderung menyia-nyiakan kehadirannya, memanfaatkan kasih sayangnya untuk kepentingan personalnya, menjadikan kepikunan dan renta tenaganya sebagai celah untuk mengakalinya. Mereka menganggap tuah-petuahnya laksana angin lalu, tak sudi membiarkan nasihat-nasihatnya menyerubuti perkupingannya atau sedikit saja membiarkan bentakan perhatiannya menyentuh nalurinya.

Di luar rumah mereka berbuat semau sendiri, tanpa mau mengerti bagaimana ayahnya yang jauh di sana bekerja keras mendidiknya menjadi anak yang arif, bakti, kaya akan moral serta berada di dalam lingkaran adab dan aturan islami. Mereka tidak menyadari nelangsanya sang ayah mengendus-ngendus jejak riski untuk menyekolahkannya supaya tumbuh menjadi pribadi yang baik dengan akhlak kesturi.

Ada baiknya kita bayangkan dan mentadabburinya sejenak, kita telusuri belasan atau puluhan tahun silam tatkala pertama kalinya kita lahir ke dunia ini, maka siapakah yang mengalirkan suara syahdu menembangkan asma agung Allah di telinga kita? Dialah ayah. Yang konon di dalam urat nadi kita mengalir darahnya juga, yang di dalam remah kujur badan kita terkandung dagingnya. Lantas, sudahkah kita telah menjadi anak yang bakti padanya dan mempersembahkan hadiah terbaik baginya berupa moral serta akhlak yang terpuji sebagaimana yang telah ia tanamkan selama ini kepada kita sejak belia hingga sekarang ini?

oleh : Esa Wandira / from : Dakwatuna
____________________
menyambung hidup, ayah, kasih sayang ayah, perjuangan ayah, pahlawan keluarga,

Save


You may also like