Di Manakah Letak Kebahagiaan ?

syukur, bersyukur

Saya takut tidak bahagia dalam membangun rumah tangga, jika belum memiliki penghasilan tetap. Saya takut tidak bisa membahagiakan keluarga saya kelak, jika belum memiliki investasi yang cukup. Saya khawatir tidak bisa hidup berbahagia nantinya jika sudah berumah tangga, apabila tidak mencari kecocokan terlebih dahulu lewat masa pacaran yang panjang

Itukah sebagian rasa khawatir Anda ? sehingga menunda pernikahan ? Di manakah letak kebahagiaan itu ?

Beberapa ulama mengungkapkan perihal kebahagiaan itu. Ibnu Munkadir berkata, “Diantara beberapa kelezatan dunia itu tak ada yang kekal dan tetap, melainkan tiga perkara yaitu waktu bangun shalat malam, di waktu bertemu kawan-kawan (seperjuangan), dan waktu shalat berjamaah.”

Mereka memiliki tolak ukur kebahagiaan yang tidak sama dengan lazimnya kebanyakan orang. Bahagia itu adalah kosa kata ruhani, dengan demikian sesungguhnya ia tak akan dicapai dengan jalan materi. Kebahagiaan dicapai dengan jalan ruhani. Materi tidak akan pernah bisa memuaskan nafsu manusia, berapapun banyaknya.

Tidak bisa dipungkiri memang, bahwa materi merupakan salah satu untuk pelengkap kebahagiaan manusia. Akan tetapi kemelimpahan materi yang tidak dibarengi dengan kekayaan ruhani justru menyebabkan orang tidak tenang dan bahagia. Anda lihat mereka yang tinggal di rumah mewah, dengan segala fasilitasnya, uang mereka melimpah tersimpan di berbagai bank, akan tetapi hidup dalam rasa khawatir, hidup dalam rasa was-was.

Rasulullah adalah sebaik-baiknya teladan, Beliau memiliki keluarga yang ideal, penuh dengan ketenangan dan kebahagiaan. Kebahagiaan beliau tidak dibangun di atas landasan materi, bukan karena banyaknya simpanan harta benda dunia. Bahkan ketika para istri Nabi menuntut tambahan harta kepada beliau , Allah berkenan menjawab tuntutan tersebut :

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu : Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kalian menghendaki (keridhoan) Allah dan rasulnya serta kesenangan di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa saja yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar (Al-Ahzab:28-29)

Kebahagiaan itu letaknya di hati yang mampu mensyukuri seluruh nikmat yang Allah berikan. Para jiwa yang senantiasa mendambakan keridhaan Allah, pada pikiran yang senantiasa tersibghah dalam kebenaran. Kebahagiaan itu bersumber dari keimanan yang mendalam, ketundukan pada ketentuan Allah, kelapangan hati dalam menerima perintah dan larangannya.

Tak jarang kita saksikan orang-orang hidup bersahaja, akan tetapi diliputi penuh kegembiraan. Keluarga mereka tentram, jauh dari pertengkaran dan keributan. Mereka tidak memiliki kekayaan dan kemewahan materi, tetapi mereka pandai mensyukuri nikmat yang allah berikan.

Bahagia itu ada di dalam hati. Bagahia itu tersimpan di dalam jiwa. Carilah kebahagiaan di hati sanubari dan kebersihan jiwa. Kedekatan Anda dengan Allah akan lebih menjamin ketentraman dan kebahagiaan, dibandingkan dengan kedekatan Anda terhadap harta benda.

Lalu mengapa Anda tidak segera menikah ? Hanya karena Anda merasa tidak memiliki cukup materi. Mengapa Anda khawatir tidak bahagia hanya karena tidak memiliki harta yang banyak, Harta memang harus di cari akan tetapi harus dilandasi kekayaan ruhaniyah.
_____________________

Menikah, anjuran menikah, kebahagiaan, letak kebahagiaan, jaminan allah, janji allah, kebahagiaan hati, rasa khawatir, rasa gelisah, tolak ukur kebahagiaan.


You may also like