Haid untuk pertama kali

muslimah, sholehah

Kajian islam, haid, hukum haid, wanita sholehah, muslimah – Haid merupakan suatu siklus bulanan yang di alami seorang wanita. Dalam islam wanita yang sedang mengalami haid tidak di perbolehkan untuk shalat, puasa dan hal-hal yang terkaid ibadah ritual lainnya. Nah berikut ada sebuah cerita yang kirannya bisa memberikan inspirasi bagi kita semua yang mempunyai anak wanita yang mengalami haid untuk pertama kali, dan bagaimana mengatasi nya.

“Mbak, aku udah haid lho!”

Seperti biasa, murid les saya yang tengah beranjak remaja ini selalu bercerita tentang apa saja yang dialaminya, di sekolahnya, di rumahnya, atau di tempat lesnya yang lain. Hubungan saya dengannya selama 6 tahun membimbing dia belajar memang gak seperti guru les dan murid, tapi lebih seperti kakak adik.

Maka, jujurl mendengar ceritanya, saya sedikit cemas, karena saya tahu dia belum ‘lulus’ tentang kewajiban seorang yang sudah baligh. Tapi saya tetap menanggapinya dengan antusias.

“Oh ya? Selamat yaa udah haid. Berarti udah baligh tuh. Shalatnya gak boleh bolong-bolong lagi yaa.”

“Iya mba. Insya Allah.”

“Eh iya, terus kamu bisa mandi besarnya? Siapa yang ngajarin?”

“Aku googling mbak.”

“Apa?” Saya sempet tercengang. “Ibu kamu gak ngajarin?”

“Suruh ibu cari di google mba tata cara mandi besar dan apapun tentang haid. Kan udah disediain hape sama wifi.”

SPEECHLESS!

Tapi tetap berusaha terlihat tenang. Dia memang anak yg pandai, high tech, dan punya inisiatif belajar yg tinggi. Mungkin orang tuanya menganggap dia sudah tahu.

“Oh, coba gimana tata cara urutan mandinya.”

Lalu dia menceritakan apa yg dibaca nya di google. Lalu kami pun berdiskusi tentang haid, mandi besar yg sesuai syariat, kewajiban orang yg sudah baligh, aurat perempuan dan tarbiah jinsiyah (sex education versi Islam).

Ya.
Hari itu saya putuskan ngobrol santai tapi serius sama murid les saya ini.
Hari itu saya sedikit mengambil alih peran orang tuanya memberikan pemahaman tentang baligh kepadanya.

Hari itu entah kenapa saya seperti merasa memiliki anak yang tengah baligh, merasa sedikit cemas, bahagia, penuh harap, sekaligus bersemangat.
Hari itu entah kenapa hati saya bergemuruh, mungkin karena saya melihat bagaimana dia tumbuh. Saat pertama kali bertemu, dia hanyalah gadis kecil kelas 3 SD yang pemalu, tahu-tahu sekarang udah baligh, kelas 3 SMP. Udah tumbuh tinggi dan cerdas. Udah siap dengan segala cita-citanya.

Saya pikir, bukankah seharusnya begitu pula yang dirasakan ibunya?
Tapi kenapa jadi anti klimaks dengan nyuruh anaknya googling sendiri ya?

Tuh kaan tuh kaan. Pasti mau nyinyirin orang tuanya yaa?

Hihihii kagak kagaak. ???

Well, masing-masing orang tua punya style parentingnya sendiri. Tapi kan sayaang bangeet, waktu jackpot terbaik membangun komunikasi dengan anak disia-siain begitu aja.

Menurut kajian fiqih wanita yang pernah saya ikuti. Masa awal seorang anak perempuan mulai haid adalah WAKTU TERBAIK mengajarkan tarbiyah jinsiyah secara lengkap, detail, menyeluruh, dan komprehensif.

Karena HAID PERTAMA seorang muslim adalah WAKTU dimulainya PERHITUNGAN AMALNYA sendiri. Pahala dan dosanya sudah ditanggung sendiri. Bukan hanya sekadar tanda dimulainya pubertas biologis saja. Tapi benar-benar membawa KONSEKUENSI SYARIAT yang menentukan kehidupannya di akhirat kelak. Maka, waktu ini dan sebelum ini harusnya digunakan dengan sebaiiiik mungkin untuk menanamkan pemahaman Islam yang menyeluruh.

Ustadzah saya mencontohkan saat anak gadisnya kali pertama haid.

~Pertama-tama dia mengucap hamdalah, lalu bertakbir dan memeluk anak gadisnya sambil diusap kepalanya.

~Sambil berkata lembut, dia menyelamati anaknya yang telah resmi menjadi mukallaf. Lalu memberikan pemahaman tentang hak dan kewajiban seorang mukallaf. Kewajiban shalat 5 waktu, puasa, menutup aurat, dll.

~Kitab tentang haid dijelaskannya lagi. Mana-mana yg gak diperbolehkan dilakukan selama haid, bagaimana tata cara mandi besar (ustadzah saya menyontohkan bagaimana tata cara mandi besar yg benar ke anaknya dengan cara ikut mendampingi saat anaknya mandi besar pertama kali), apa ciri-ciri darah haid, berapa waktu maksimal dihukumi haid, apa itu istihadhoh, dll.

~Konsep aurat diingatkan kembali. Baju-baju yang gak menutup aurat dikeluarkan dari lemari. Diganti baju yang menutup aurat. Ustadzah saya bahkan membelikan beberapa jilbab baru buat anak gadisnya sebagai hadiah telah baligh.

~Lalu mengingatkan konsep tarbiyah jinsiyah. Tentang mahram, menundukkan pandangan, menjaga kesucian diri, menjaga interaksi antar lawan jenis, dll.

~Menjaga komunikasi hangat dengan anak gadisnya yang tengah baligh. Sekarang pola komunikasinya bukan lagi selayaknya orang tua-anak, tapi lebih ke sesama sahabat. Memposisikan diri sebagai partner diskusi, teman curhat yg asyik, dan teman bersenang-senang melakukan kegiatan kesukaan.

Begitu juga saat anak laki-laki nya mulai mimpi basah. Komunikasi tentang hal ini perlu adanya. Karena sebagaimana haid, mimpi basah pun merupakan tanda awal masa balighnya dimulai.

Semua ini begitu penting, tapii masih banyak orang tua yang belum sepenuhnya memerhatikan masalah ini. Entah karena kurang ilmu, kurang waktu, atau karena memang gak tahu dan gak mau tahu. ?

Cara anak mandi besar saat haid/mimpi basah pertama kali itu akan terus dilakukan nya sampai tua nanti. Bayangkan berapa banyak pahala yang mengalir terus menerus jika kita sendiri yang mengajarkannya pada anak kita. Pada remaja kita. Pun sebaliknya, apakah kita gak berdosa membiarkan anak belajar sendiri tentang ini dari sumber yang gak pasti?

Menjadi orang tua memang perlu teruus meneruus meng-upgrade ilmu. Gak ada alasan ‘saya gak tau agama’, ‘saya gak paham masalah haid’, atau sejenisnya. Karena di era sekarang ilmu bertebaran dimana-mana. Kajian Islam digelar di setiap sudut kota. Kalo gak sempet bolehlah sisihkan uang untuk beli buku-buku agama. Kalo gak ada uang bisa mengunjungi perpustakaan. Kalo gak ada waktu ikutilah streaming ceramah para ustadz yang dengan mudah disimak melalui layar smartphone kita. Kalo gak ada waktu, bisaaa baca-baca situs kajian yang shahih di sela-sela waktu luangnya.

See?
Semua tentang parenting itu bukan masalah TIDAK TAU, tapi BELUM MAU TAU, atau GAK MAU TAU.

Tugas utama orang tua seperti tersebut dalam Alquran itu menyelamatkan anak dari api neraka. Maka, jalan satu-satunya adalah dengan terus belajar. Menggali ilmu lewat apa saja. Baca buku-buku yang bermanfaat, ikut kajian Islam, nonton streaming ceramah, dll.

Sebagai seorang guru les yang sering menghadapi berbagai murid dari berbagai latar belakang pola asuh, saya sering menemukan orang tua yang abai terhadap kewajiban shalat anaknya. Maka, saya ini cerewet, suka tanya dulu sama murid les, “udah shalat ashar/magrib/isya belum?” sebelum les dimulai. Kalo belum shalat, saya persilakan shalat dulu.

Dari para murid les saya, saya mengamati berbagai pola asuh yang diterapkan orang tuanya. Menyaksikan sendiri hasil pola asuh di tiap anak yang saya temui.

Oh anak yang ceria itu karena orang tuanya suka mengapresiasi.
Oh anak yang gak pedean itu karena orang tuanya suka mencaci anak sendiri.
Oh anak yang penalarannya bagus itu karena orang tuanya suka membangun komunikasi.

Karena, Pak, Bu

“There is no SCHOOL equal to a decent HOME and no TEACHER equal to a virtuous PARENT.”

Tidak ada sekolah yang menyamai rumah yang nyaman yang penuh keteladanan dan tidak ada guru yang menyamai orang tua yang baik.

Ditulis oleh:
~Novika Amelia~

Kajian islam, haid, hukum haid, wanita sholehah, muslimah,


You may also like