Musibah Dalam Pandangan Islam

musibah, bencana,

Musibah dalam pendangan islam, Sungguh itu adalah suatu cobaan. Musibah dapat datang kapan saja, dan kita sering kali dibuat lupa apa yang harus dilakukan bagi seorang muslim ketika musibah itu datang. Kebanyakan dari kita panik, histeris, atapun tak rela ketika musibah itu datang. Padahal musibah itu dalam alquran dituliskan sebagai ujian bagi orang-orang yang beriman untuk naik kelas. Ada banyak hikmah yang bisa kita ambil dari Musibah.

 لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (286)

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo’a): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”

Melalui musibah dalam pandangan seorang muslim ada empat poin penting yang dapat menjadi titik tolak kesadaran  dalam memaknai peristiwa musibah yang mengharu-birukan kemanusiaan kita. Pertama, berhusnudzan kepada Allah SWT, berbaik sangka kepada-Nya. Tidaklah Dia menciptakan segala sesuatu dengan kesia-siaan (QS Shaad [38] :27).

Dan tentu saja sikap seorang mukmin dalam menghadapi musibah adalah dengan bersabar sembari mengharapkan balasan kebaikan dari sisi Allah SWT. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Fawaidul Fawaid-nya menjelaskan bahwa ubudiyah kepada Allah dalam qadha’ musibah ialah dengan sabar menghadapinya dan ridha menerimanya.

Ridha menerima musibah lebih tinggi kedudukannya daripada sabar. Kemudian mensyukuri musibah itu, ini lebih tinggi dari ridha. Perasaan ini muncul karena ada rasa cinta Allah SWT yang tumbuh di dalam hatinya.

Kedua, selayaknya musibah ini menjadikan kita menyadari akan kelemahan diri dan ke-MahaKuasa-an Allah SWT. Sesungguhnya kita ini tunduk dalam pengaturan Rabb kita. Jiwa kita ini ada di tangan-Nya. Ubun-ubun kita ada di tangan-Nya. Hati kita ada di tangan-Nya. Hidup, mati, bahagia dan derita, afiat dan musibah, semuanya ada di tangan Allah SWT.

Firman-Nya: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (Muslim).” (QS Al An’aam [6] :162-163).

Ketiga, selayaknya musibah ini menyadarkan kita akan semakin dekatnya hari kiamat. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa diantara tanda-tanda dekatnya hari kiamat adalah banyak terjadinya gempa bumi. Karena itu kita jangan merasa aman dari turunnya adzab-Nya.

Allah SWT berfirman: “Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman sekiranya adzab Kami datang menimpa mereka di malam hari, sedang meraka dalam keadaan lelap tertidur? Ataukah mereka merasa aman apabila adzab Kami datang kepada mereka di waktu dhuha dan mereka sedang asyik bermain? Apakan mereka merasa aman dari makar Allah? Sesungguhnya tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang rugi.” (QS al-‘Araf [7] :97-99).

Keempat, selayaknya musibah ini menyadarkan kita untuk tidak membiarkan begitu saja terhadap kemunkaran-kemunkaran yang muncul di tengah-tengah masyarakat. Karena boleh jadi, musibah ini akibat dari perbuatan munkar yang kita lakukan atau akibat perbuatan munkar yang kita biarkan.

Suatu ketika, Zainab istri Rasulullah, pernah bertanya kepadanya: “Wahai Rasulullah, apakah kami juga akan diadzab, sedang di tengah-tengah kami ada orang yang saleh?” Beliau menjawab: “Ya, jika kekejian itu sudah semakin banyak.” (HR Muslim).

Kapan kekejian dan kejahatan itu dikategorikan banyak? Yakni ketika kekejian itu sudah dilakukan secara terang-terangan di tengah masyarakat. Tidak ada lagi orang yang menghentikannya, para aparat berwenang melegalkannya, akhirnya kemungkaran itu pun menjadi kuat karena para penguasa membiarkannya begitu saja. Wallahu a’lam.

 

musibah, datangnya musibah, pandangan islam, musibah menurut islam, menghadapi musibah, muslim menghadapi musibah, sikap muslim,


You may also like