Pria Bekerja Dalam Islam

bekerja

Sebagai seorang lelaki dewasa bekerja adalah kewajiban. karena orang hidup ya mesti bekerja. Bagaimana ia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, istri dan anak-anaknya jika hari-harinya hanya diisi dengan berpangku tangan, ongkang-ongkang kaki bermalas-malasan. Bukankah langit tidak akan menurunkan hujan uang?

Seperti yang terkandung dalam Al Qur’an Allah swt. berfirman yang artinya, ’’…. maka bertebarlah kamu di muka bumi, dan cari karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak banyaknya agar kamu beruntung. ’’ [QS. Al-Jumu’ah (62) : 10 ]. Ayat lainnya mengengai kewajiban bekerja… ‘’Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepadaNya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan’’. [QS. Al Mulk (67) : 15 ]

Dua ayat di atas mengisyaratkan agar seorang muslim memiliki etos kerja. Punya semangat bekerja keras dalam mencari penghidupan guna memenuhi kebutuhan hidup dirinya, keluarganya ataupun orang-orang yang menjadi tanggunganya.

Rasulullah sendiri juga sangat mencintai orang mukmin yang mau bekerja keras, sampai-sampai beliau mengatakan, ’’ Apabila seseorang itu keluar (dari rumah) bekerja untuk anaknya yang masih kecil maka itu fi sabilillah. Dan apabila ia bekerja untuk kedua orang tuanya yang telah lanjut usia maka itu fi sabilillah. Dan apabila keluar bekerja untuk dirinya agar terjaga kehormatannya (tidak meminta-minta ), maka itu fi sabilillah. ’’ [HR. Thabrani].

Terkadang orang itu ada -kalau boleh pakai istilah- ’’terlalu idealis namun tidak-tidak realistis ‘’ maunya atau cita-citanya ingin jadi pegawai kantoran yang berseragam nyetil dan necis, bekerja tidak banyak mengeluarkan otot dan keringat apalagi berlumpur-lumpur, sehari kerja gajinya cukup buat hidup satu minggu. Hingga ber-istri dan ber-anak, pekerjaan yang diinginkan tak kunjung dapat, namun tetap saja ia setia menanti angan-angannya itu dan tidak mau bekerja yang lain. Berprinsip, ’’Mending (lebih baik) nganggur daripada bekerja tidak sesuai dengan asa’’, padahal ia punya kebutuhan hidup, punya istri dan anak yang menjadi tanggung jawabnya. Bukankah Rasulullah pernah mengatakan, ’’Sungguh jika salah seorang dari kalian mengambil tali lalu pergi ke gunung [untuk mencari kayu bakar], kemudian dia pulang dengan memikul seikat kayu bakar dipunggungnya lalu dijual sehingga dengan itu Allah menjaga wajahnya [kehormatannya], maka ini lebih baik daripada meminta minta kepada manusia, diberi atau ditolak. ’’ [HR. Bukhari]


You may also like