Qurban Untuk Orang Yang Telah Wafat

qurban sapi, qurban, qurban kambing, qurban domba

Setelah ramadhan usai hari raya selanjutnya yang akan diperingati umat islam adalah idul adha. Pada hari raya ini kita yang tidak pergi haji tetapi mampu secara finansial disarankan untuk berkurban. Nah terkait qurban kadang kita ingin sekali berbakti kepada orang tua yg telah tiada, dengan berqurban atas nama mereka. Qurban yang kita lakukan pahalanya diberikan untuk orang tua yang telah wafat.

Mengenai qurban untuk orang yang telah wafat sebagian ulama membolehkannya, sedang sebagian lainnya mengatakan tidak.Pahala yang diberikan kepada orang yang telah wafat tidak akan sampai.

Saya coba jabarkan beberapa pendapat tersebut.

 

1. Pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i

An-Nawawi (w. 676) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi’iyah menyebutkan dalam kitabnya Raudhatu Ath-Thalibin terkait masalah qurban untuk orang yang sudah wafat sebagai berikut :

وذكر صاحب «العدة» : أنه لو أنبط عينا أو حفر نهرا أو غرس شجرة أو وقف مصحفا في حياته أو فعله غيره عنه بعد موته يلحق الثواب الميت.

Penulis kitab Al-Uddah menuliskan bahwa bila seseorang menemukan mata air atau menggali sungai atau menanam pohon atau mewakafkan mushaf semasa hidupnya, atau ada orang yang melakukan untuknya setelah dia wafat, maka dia (mayyit itu) akan mendapatkan pahalanya.

واعلم أن هذه الأمور إذا صدرت من الحي فهي صدقات جارية، يلحقه ثوابها بعد الموت كما صح في الحديث، وإذا فعل غيره عنه بعد موته، فقد تصدق عنه. والصدقة عن الميت تنفعه، ولا يختص الحكم بوقف المصحف، بل يجري في كل وقف .

Ketahuilah bahwa masalah ini bila dilakukan oleh orang yang masih hidup akan menjadi sedekah jariyah, dimana pahalanya akan sampai kepadanya setelah matinya sebagaimana disebutkan di dalam hadits. Dan bila orang lain yang melakukannya setelah kematiannya, juga termasuk sedekah baginya. Dan sedekah untuk mayyit akan memberikan manfaat. Hukumnya tidak sebatas mewakafkan mushaf tapi berlaku untuk semua wakaf.

 

وهذا القياس يقتضي جواز التضحية عن الميت؛ لأنها ضرب من الصدقة. وقد أطلق أبو الحسن العبادي جواز التضحية عن الغير، وروى فيه حديثا. لكن في «التهذيب» أنه لا تجوز التضحية عن الغير بغير إذنه، وكذلك [عن] الميت، إلا أن يكون أوصى به

Qiyas ini membolehkan qurban untuk mayit karena merupakan bagian dari sedekah juga. Abu Al-Hasan Al-Abadi membolehkan qurban untuk orang lain dan beliau meriwayatkan hadits untuk itu.

Namun di dalam kitab At-Tahzib disebutkan bahwa tidak dibenarkan qurban untuk orang lain kecuali dengan seizinnya. Demikian juga qurban untuk mayyit kecuali bila semasa hidupnya pernah berwasiat. [1]

Dari pemaparannya nampak bahwa para ulama dalam mazhab Asy-Syafi’iyah tidak sepakat tentang kebolehannya. Ada yang membolehkan tanpa syarat dan ada yang membolehkan tetapi dengan syarat.

Sebagian yang membolehkan qurban untuk mayyit mensyaratkan harus ada wasiat dari mayyit sebelum kematiannya. Dan sebagian yang lain membolehkan qurban untuk mayyit tanpa harus ada wasiat sebelumnya, dengan dalil bahwa bila mayyit itu berhutang lalu dilunasi orang lain, maka pembayaran hutang itu bermanfaat buat mayit itu meski dia tidak pernah mewasiatkan sebelumnya.

2.Mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Hanabilah

Mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Hanabilah

Sebaliknya, kalangan fuqaha dari Al-Hanafiyah dan Al-Hanabilah sepakat bahwa hal itu boleh hukumnya. Artinya tetap sah dan diterima disisi Allah SWT sebagai pahala qurban.

Mereka membolehkan pengiriman pahala menyembelih hewan udhiyah kepada orang yang sudah meninggal dunia. Dan bahwa pahala itu akan bisa bermanfaat disampaikan kepada mereka.

Dasar kebolehannya adalah bahwa dalil-dalil menunjukkan bahwa kematian itu tidak menghalangi seorang mayit bertaqarrub kepada Allah SWT, sebagaimana dalam masalah shadaqah dan haji.

Dari Ibnu Abbas ra bahwa seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Ibu saya telah bernazar untuk pergi haji, tapi belum sempat pergi hingga wafat, apakah saya harus berhaji untuknya?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya pergi hajilah untuknya. Tidakkah kamu tahu bila ibumu punya hutang, apakah kamu akan membayarkannya? Bayarkanlah hutang kepada Allah karena hutang kepada-Nya lebih berhak untuk dibayarkan.” (HR Al-Bukhari).

Hadits ini menunjukkan bahwa pelaksanaan ibadah haji dengan dilakukan oleh orang lain memang jelas dasar hukumnya, oleh karena para shahabat dan fuqoha mendukung hal tersebut. Mereka di antaranya adalah Ibnu Abbas, Zaid bin Tsabit, Abu Hurairah, Imam Asy-Syafi`i rahimahullah. dan lainnya.

Sedangkan Imam Malik mengatakan bahwa boleh melakukan haji untuk orang lain selama orang itu sewaktu hidupnya berwasiat untuk dihajikan.

Seorang wanita dari Khats`am bertanya, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah mewajibkan hamba-nya untuk pergi haji, namun ayahku seorang tua yang lemah yang tidak mampu tegak di atas kendaraannya, bolehkah aku pergi haji untuknya?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya.” (HR Jamaah)

3. Mazhab Al-Malikiyah

Sedangkan mazhab Al-Malikiyah mengatakan bahwa hal itu masih tetap boleh tapi dengan karahiyah (kurang disukai).

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc., MA

[1] An-Nawawi, Raudhatu Ath-Thalibin, jilid 6 hal. 202

_______________________

qurban, pahala qurban, qurban untuk orangtua, dalil qurban, hukum qurban, aturan qurban, idul adha


You may also like